arj - 24 September 2026 - 09:33
arj
-
24 September 2026
-
09:33
Punya brand kosmetik bukan hanya tentang menciptakan produk dengan formula yang menarik, kemasan yang cantik, atau strategi marketing yang kuat. Di tengah perkembangan industri kosmetik Indonesia, ada satu aspek yang semakin penting untuk dipersiapkan oleh setiap brand owner, yaitu sertifikasi halal kosmetik 2026.
Mulai 18 Oktober 2026, produk kosmetik termasuk dalam kategori yang wajib memiliki sertifikat halal sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Bidang Jaminan Produk Halal. BPJPH juga telah menegaskan bahwa implementasi kewajiban halal Oktober 2026 tetap berjalan sesuai jadwal.
Artinya, bagi calon maupun pemilik brand kosmetik, persiapan halal tidak sebaiknya dilakukan ketika produk sudah siap dipasarkan. Aspek halal justru perlu dipertimbangkan sejak tahap pengembangan produk.
Apa Itu Sertifikasi Halal Kosmetik 2026?
Sertifikasi halal merupakan proses untuk memberikan kepastian mengenai status kehalalan suatu produk berdasarkan ketentuan Jaminan Produk Halal.
Dalam konteks kosmetik, prosesnya tidak hanya melihat produk akhir. Aspek yang berkaitan dengan bahan, proses produksi, fasilitas, hingga ketertelusuran bahan juga menjadi bagian penting dalam sistem jaminan produk halal.
BPJPH menyebut kosmetik sebagai salah satu kelompok produk yang masuk dalam kewajiban sertifikasi halal mulai 18 Oktober 2026. Ketentuan ini berlaku sebagai bagian dari penahapan kewajiban sertifikasi halal yang cakupannya semakin luas.
Karena itu, brand owner perlu mulai memahami bahwa halal bukan sekadar logo yang dicantumkan pada kemasan. Ada proses dan sistem yang perlu dipersiapkan untuk memastikan produk memenuhi ketentuan yang berlaku.
Kenapa Sertifikasi Halal Penting untuk Bisnis Kosmetik?
Bagi konsumen, informasi mengenai status halal dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih produk kosmetik.
Sementara bagi brand owner, kesiapan halal dapat menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan dan menjaga keberlanjutan bisnis.
BPJPH sendiri menyampaikan bahwa sertifikasi halal dapat memberikan nilai tambah, meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas akses pasar, serta memperkuat daya saing usaha.
Dengan demikian, sertifikasi halal kosmetik 2026 tidak harus dipandang semata-mata sebagai tambahan administrasi. Bagi bisnis, proses ini dapat menjadi bagian dari perencanaan produk dan pengembangan brand dalam jangka panjang.
BPOM dan Sertifikasi Halal: Apa Bedanya?
Salah satu hal yang masih sering membingungkan calon brand owner adalah hubungan antara BPOM dan sertifikasi halal.
Padahal, keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
BPOM berkaitan dengan pengawasan obat dan makanan, termasuk aspek keamanan, mutu, dan peredaran produk kosmetik sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara BPJPH memiliki peran dalam penyelenggaraan jaminan produk halal dan proses sertifikasi halal.
Jadi, produk yang telah memenuhi persyaratan dan memiliki legalitas terkait BPOM tidak otomatis berarti produk tersebut telah memiliki sertifikat halal.
Keduanya perlu dipahami sebagai aspek yang berbeda dalam kesiapan produk.
Dalam menghadapi kewajiban halal 2026, BPJPH dan BPOM juga terus melakukan koordinasi untuk mendukung kesiapan industri kosmetik. BPJPH bahkan melibatkan BPOM dalam penyusunan pedoman sertifikasi halal produk kosmetik.
Sertifikasi Halal Kosmetik Tidak Hanya Bicara Bahan Baku
Ketika membahas produk halal, banyak orang langsung berpikir mengenai bahan baku.
Padahal, kesiapan halal pada produk kosmetik memiliki cakupan yang lebih luas.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Bahan Baku
Bahan yang digunakan dalam formula perlu ditelusuri sumber dan statusnya sesuai persyaratan yang berlaku.
Dalam industri kosmetik, beberapa bahan dapat memiliki sumber atau proses produksi yang perlu diperhatikan dari sisi kehalalan.
Karena itu, pemilihan bahan sejak awal menjadi salah satu tahap penting dalam pengembangan produk.
2. Supplier
Bahan yang digunakan brand biasanya berasal dari berbagai pemasok. Artinya, brand owner perlu mengetahui sumber bahan serta dokumen pendukung yang tersedia.
Supplier yang memiliki dokumentasi bahan secara jelas akan membantu proses penelusuran menjadi lebih terarah.
3. Proses Produksi
Produk yang menggunakan bahan yang sesuai tetap perlu diproduksi melalui proses yang memenuhi ketentuan sistem jaminan produk halal.
Karena itu, proses produksi tidak bisa dipisahkan dari pembahasan mengenai sertifikasi halal kosmetik 2026.
4. Fasilitas Produksi
Fasilitas produksi juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Pengelolaan bahan, penyimpanan, proses produksi, hingga kebersihan dan ketertelusuran perlu dipersiapkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Inilah mengapa pemilihan partner maklon menjadi salah satu keputusan penting bagi calon brand owner.
Apa Risiko Jika Brand Baru Bersiap di Menit Terakhir?
Menunggu hingga mendekati batas implementasi dapat membuat proses pengembangan menjadi lebih kompleks.
Misalnya, brand menemukan bahwa salah satu bahan membutuhkan dokumen tambahan. Atau supplier tertentu belum dapat memberikan informasi yang diperlukan. Bahkan, perubahan bahan pada formula yang sudah dikembangkan dapat berdampak pada proses evaluasi dan pengembangan ulang.
Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap:
Karena itu, mempersiapkan sertifikasi halal kosmetik 2026 sejak tahap awal dapat membantu brand mengurangi potensi penyesuaian yang tidak terencana.
Bagaimana Brand Owner Bisa Mulai Bersiap?
Tidak perlu menunggu produk selesai dibuat untuk mulai memikirkan halal.
Brand owner dapat memulainya dari beberapa langkah sederhana.
Pertama, tentukan konsep produk.
Pahami produk apa yang ingin dibuat, siapa target konsumennya, dan positioning yang ingin dibangun.
Kedua, konsultasikan formula dan bahan.
Diskusikan bahan yang akan digunakan bersama tim R&D dan pastikan aspek dokumentasi bahan menjadi bagian dari proses pengembangan.
Ketiga, perhatikan supplier dan sumber bahan.
Pastikan informasi mengenai bahan dan pemasok dapat ditelusuri dengan baik.
Keempat, pilih fasilitas produksi yang siap mendukung proses halal.
Partner produksi yang memahami proses pengembangan kosmetik dan persyaratan terkait dapat membantu brand mempersiapkan produk secara lebih terarah.
Kelima, persiapkan dokumen sejak awal.
Jangan menunggu produk siap produksi massal untuk mulai mengumpulkan dokumen yang diperlukan.
Dengan pendekatan seperti ini, proses sertifikasi halal dapat menjadi bagian dari roadmap pengembangan brand, bukan pekerjaan tambahan yang muncul di tahap akhir.
Maklon Kosmetik Halal untuk Persiapan Brand 2026
Bagi calon brand owner yang baru memulai bisnis kosmetik, memahami seluruh proses tersebut mungkin terasa cukup kompleks.
Di sinilah layanan maklon dapat membantu.
Melalui partner maklon yang memiliki sistem pengembangan produk secara end-to-end, brand owner dapat berkonsultasi mulai dari konsep, formula, bahan, packaging, legalitas, hingga proses produksi.
Di Eshbi, pengembangan produk dilakukan dengan pendekatan end-to-end untuk membantu brand owner membangun produk dari tahap awal hingga siap dipasarkan.
Mulai dari konsultasi dan konsep produk, pengembangan formula, sampel, desain dan packaging, legalitas, hingga produksi, setiap tahap dapat direncanakan dengan lebih terstruktur.
Dengan demikian, aspek halal dapat dipertimbangkan sejak awal pengembangan produk, bukan baru dipikirkan setelah produk selesai.
Sertifikasi Halal sebagai Bagian dari Strategi Bisnis
Memasuki 2026, brand kosmetik perlu melihat kepatuhan regulasi sebagai bagian dari perencanaan bisnis.
Sertifikasi halal bukan hanya tentang memenuhi sebuah persyaratan. Prosesnya juga mendorong brand untuk lebih memperhatikan sumber bahan, ketertelusuran, proses produksi, serta kesiapan dokumentasi.
Hal tersebut dapat menjadi fondasi bagi brand untuk membangun sistem bisnis yang lebih terstruktur.
Terlebih lagi, BPJPH menyampaikan bahwa kewajiban halal 2026 juga dapat menjadi momentum bagi pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing, memperkuat kepercayaan konsumen, dan membuka peluang pasar yang lebih luas.
Jangan Tunggu Produk Jadi untuk Memikirkan Halal
Sertifikasi halal kosmetik 2026 bukan lagi topik yang bisa ditunda oleh calon brand owner.
Dengan implementasi kewajiban yang dijadwalkan mulai 18 Oktober 2026, persiapan sejak tahap pengembangan dapat membantu brand memahami kebutuhan produk, bahan, supplier, proses produksi, dan dokumen yang diperlukan.
Membangun brand kosmetik bukan hanya tentang memiliki produk yang menarik untuk dijual hari ini. Brand juga perlu memiliki fondasi yang mendukung keberlangsungan bisnis ke depannya.
Punya ide produk kosmetik sendiri?
Mulai persiapkan produkmu bersama partner yang dapat mendampingi proses pengembangan dari awal hingga produksi.
Eshbi hadir sebagai partner maklon all-in-one untuk membantu Anda menciptakan dan mengembangkan produk berkualitas dengan brand sendiri.
Mulai langkahmu jadi beautypreneur hari ini bersama Eshbi.
Dalam dunia skincare, day cream dan night cream adalah dua produk perawatan wajah yang sering digunakan setiap hari. Meski terlihat mirip, keduanya me...
Baca Selengkapnya >
OEM dan ODM adalah dua sistem produksi yang banyak digunakan oleh brand owner untuk memiliki produk dengan merek sendiri tanpa harus membangun pabrik....
Baca Selengkapnya >