Produk Wajib Halal 2026: Apa Saja yang Harus Bersertifikat Halal? Ini Panduan untuk Pelaku Usaha

Produk Wajib Halal 2026: Apa Saja yang Harus Bersertifikat Halal? Ini Panduan untuk Pelaku Usaha

arj - 11 September 2026 - 13:25

Produk Wajib Halal 2026, Jangan Sampai Brand Kamu Belum Siap!

Bagi pelaku usaha dan calon brand owner, sertifikasi halal bukan lagi sekadar nilai tambah. Seiring berjalannya ketentuan Jaminan Produk Halal (JPH) di Indonesia, semakin banyak kategori produk yang diwajibkan memiliki sertifikat halal.

Memasuki tahun 2026, pelaku usaha perlu semakin memperhatikan status halal produk sebelum diproduksi dan dipasarkan. Hal ini terutama penting bagi bisnis yang bergerak di bidang makanan, minuman, kosmetik, obat tradisional, suplemen, dan produk konsumsi lainnya.

Jangan sampai produk sudah siap dipasarkan, tetapi legalitas halalnya belum dipersiapkan.

Apa Itu Produk Wajib Halal?

Produk wajib halal adalah produk yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan harus memiliki Sertifikat Halal sebelum beredar atau diperdagangkan di Indonesia.

Kewajiban tersebut merupakan bagian dari penerapan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal beserta peraturan pelaksananya.

Bagi pemilik brand, memahami kewajiban ini sejak awal akan membantu menghindari kendala ketika produk memasuki tahap produksi, registrasi, hingga pemasaran.

Produk Apa Saja yang Wajib Halal pada 2026?

Secara umum, kategori produk yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Makanan dan Minuman

Produk makanan dan minuman merupakan kategori yang sangat penting dalam penerapan kewajiban sertifikasi halal.

Contohnya:

  • Makanan olahan
  • Minuman olahan
  • Snack  
  • Makanan ringan
  • Minuman serbuk
  • Produk bakery
  • Produk makanan siap saji
  • Produk pangan kemasan 

Bagi brand yang ingin melakukan maklon pangan, status bahan baku, proses produksi, fasilitas produksi, hingga bahan tambahan perlu diperhatikan sejak awal.

2. Kosmetik

Produk kosmetik juga menjadi kategori yang wajib diperhatikan oleh pelaku usaha.

Contohnya:

  • Skincare  
  • Facial wash
  • Serum  
  • Moisturizer  
  • Sunscreen  
  • Body lotion
  • Body serum
  • Shampoo  
  • Hair care
  • Makeup  
  • Parfum dan produk wewangian tertentu 

Bagi calon brand skincare, sertifikasi halal sebaiknya tidak dianggap sebagai tahap yang baru dipikirkan setelah produk selesai.

Konsep formula, bahan baku, proses produksi, hingga dokumentasi pendukung sebaiknya dipersiapkan sejak awal.

3. Obat Tradisional dan Produk Herbal

Produk berbahan herbal juga termasuk kategori yang perlu diperhatikan dalam penerapan kewajiban halal.

Contohnya:

  • Jamu  
  • Obat tradisional
  • Produk herbal
  • Kapsul herbal
  • Tablet herbal
  • Serbuk herbal
  • Minuman herbal 

Bagi brand yang ingin mengembangkan produk herbal melalui sistem maklon, pemilihan bahan dan proses produksinya perlu disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

4. Suplemen Kesehatan

Produk suplemen juga menjadi kategori penting untuk diperhatikan, terutama karena bahan yang digunakan dapat berasal dari berbagai sumber.

Contohnya:

  • Kapsul  
  • Tablet  
  • Serbuk minuman
  • Vitamin  
  • Suplemen herbal
  • Produk nutrisi tertentu 

Pemilik brand sebaiknya memastikan bahan baku dan proses produksinya dapat memenuhi persyaratan halal yang berlaku.

Mengapa Sertifikasi Halal Penting untuk Brand?

Sertifikasi halal bukan hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap regulasi. Bagi brand, status halal juga dapat menjadi bagian dari kepercayaan konsumen.

Beberapa manfaatnya antara lain:

1. Meningkatkan kepercayaan konsumen
Label halal memberikan informasi yang lebih jelas mengenai status kehalalan produk.

2. Membantu memenuhi ketentuan regulasi
Pelaku usaha dapat mempersiapkan produk sesuai dengan kewajiban yang berlaku.

3. Meningkatkan daya saing brand
Sertifikasi halal dapat menjadi salah satu nilai tambah ketika produk bersaing di pasar.

4. Memperluas peluang pasar
Produk yang memiliki sertifikasi halal memiliki peluang lebih besar untuk diterima oleh konsumen yang mempertimbangkan aspek halal dalam memilih produk.

Jangan Urus Halal Setelah Produk Jadi

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memikirkan sertifikasi halal setelah formula dan produksi sudah ditentukan.

Padahal, sejak awal pengembangan produk, brand owner sebaiknya sudah mempertimbangkan:

  • Asal bahan baku
  • Komposisi formula
  • Bahan tambahan
  • Proses produksi
  • Kebersihan fasilitas
  • Dokumen bahan
  • Supplier bahan baku
  • Proses penyimpanan
  • Kemasan dan informasi produk 

Dengan perencanaan sejak awal, proses pengembangan produk dapat menjadi lebih terarah dan meminimalkan potensi kendala di kemudian hari.

Mau Membuat Brand Sendiri? Persiapkan dari Awal

Bagi kamu yang ingin membangun brand kosmetik, herbal, pangan, atau produk lainnya melalui maklon, jangan hanya fokus pada formula dan kemasan.

Pastikan juga aspek legalitas dan persyaratan produk sudah dipertimbangkan sejak tahap awal.

Eshbi Putra Indonesia hadir sebagai partner maklon untuk membantu proses pengembangan produk dari konsep hingga produk siap dipasarkan, termasuk pendampingan terkait kebutuhan produksi dan legalitas sesuai kategori produk.

Saatnya Bangun Brand yang Siap Bersaing di 2026!

Memulai brand bukan hanya tentang membuat produk yang menarik. Produk juga harus memiliki formula yang tepat, proses produksi yang baik, kemasan yang menarik, serta legalitas yang sesuai.

Jangan tunggu sampai produk siap produksi baru memikirkan sertifikasi halal.

Rencanakan dari awal. Produksi dengan tepat. Bangun brand yang lebih dipercaya.

Mulai langkahmu menjadi brand owner bersama Eshbi Putra Indonesia.

Berita Terpopuler

Perbedaan Day Cream dan Night Cream: Fungsi, Kandungan, dan Cara Pakai yang Benar
Perbedaan Day Cream dan Night Cream: Fungsi, Kandungan, dan Cara Pakai yang Benar

Dalam dunia skincare, day cream dan night cream adalah dua produk perawatan wajah yang sering digunakan setiap hari. Meski terlihat mirip, keduanya me...

Baca Selengkapnya >
OEM dan ODM: Pengertian, Perbedaan, dan Keuntungannya untuk Brand Owner
OEM dan ODM: Pengertian, Perbedaan, dan Keuntungannya untuk Brand Owner

OEM dan ODM adalah dua sistem produksi yang banyak digunakan oleh brand owner untuk memiliki produk dengan merek sendiri tanpa harus membangun pabrik....

Baca Selengkapnya >